Sidak DPRD Banyuwangi Ungkap Biang Konflik Proyek Pengurukan Lahan

Home / Berita / Sidak DPRD Banyuwangi Ungkap Biang Konflik Proyek Pengurukan Lahan
Sidak DPRD Banyuwangi Ungkap Biang Konflik Proyek Pengurukan Lahan Pimpinan PT Sura Wangi INTL, Handoyo, selaku pelaksana proyek pengurukan saat menjelaskan kepada lintas Komisi 3 dan 4 DPRD. (Foto: Syamsul Arifin/TIMES Indonesia)

TIMESBIMA, BANYUWANGI – Selain mendapati bodongnya perizinan serta imbas kerusakan, sidak Komisi 3 dan 4 DPRD Banyuwangi, Jawa Timur juga berhasil mengungkap biang konflik pelaksanaan proyek pengurukan lahan seluas 6,3 hektar diperbatasan Kelurahan Karangrejo dan Kertosari.

Penolakan keras dari warga muncul akibat oknum yang dimintai tolong pelaksana proyek, PT Sura Wangi INTL, untuk membantu sosialisasi tidak dilakukan dengan baik.

BACA JUGA: DPRD Banyuwangi Tutup Proyek Pengurukan Lahan

Pimpinan PT Sura Wangi INTL, Handoyo menyebutkan, untuk proses sosialisasi ke warga sekitar lokasi proyek, dia telah mempercayakan pada Gatot dan Eko. Kepada dua warga Kelurahan Kertosari tersebut, perusahaan juga menitipkan uang Corporate Social Responsibility (CSR) sebesar Rp 40 juta.

Namun yang terjadi, baik sosialisasi maupun anggaran, tidak tersampaikan seluruhnya. Yang ada justru Gatot sering mengeluarkan ancaman saat ada warga yang kritis terhadap pelaksanaan proyek ilegal tersebut.

“Untuk komunikasi dengan masyarakat bukan saya sendiri, kebetulan ada yang kita tunjuk juga, yaitu mas Gatot dan mas Eko,” ucap Handoyo, Selasa (16/1/2017).

BACA JUGA: Pengurukan Lahan Ilegal Disidak DPRD, Lurah Karangrejo Pasang Badan

Sementara itu, Jono, warga Desa Laban Asem, Kecamatan Kabat, selaku pengelola lahan, menyebut bahwa pengurukan dilakukan untuk merubah fungsi lahan. Dari yang sebelumnya bekas tambak, akan dijadikan kebun.

“Pemilik lahannya pak Gohadi, warga Surabaya, untuk pengerjaan uruk, kita serahkan semua pada PT pelaksana proyek,” cetusnya.

Seperti diketahui, pasca sidak, lintas Komisi 3 dan 4 DPRD Banyuwangi, langsung merekomendasikan penutupan paksa terhadap proyek pengurukan ini. Tak hanya karena pengerjaan tidak dilengkapi perizinan yang berlaku. Tapi material uruk yang digunakan oleh pelaksana proyek, Handoyo, juga berasal dari galian C ilegal. Yakni dari Saiful dengan lokasi galian C di Kejoyo, Kecamatan Kabat, Antok yang lokasi tambangnya di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo dan Yanto, lokasi galian C di Desa Kelir, Kecamatan Kalipuro.

Tak berhenti disitu, lalu lalang truk pengangkut material juga telah merusak sejumlah infrastuktur di wilayah Kelurahan Kertosari. Dan anehnya, meski proyek ilegal ini telah merugikan banyak pihak, saat DPRD melakukan sidak, Lurah Karangrejo, Efendi, justru membela pelaksana proyek.(*)

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com